Sunday, February 16, 2014

Cerita Lain

7:36 AM 0 Comments
CHAPTER 1 : Proud Of...

Hai...
Sebenarnya boleh nggak sih si idiot macam saya ini merasa bangga?
Bangga karena saya menghasilkan karya saya benar-benar sendiri.
Belajar mulai dari nol sendiri.
Tanpa bertanya pada siapapun.
Dan hanya mengandalkan selancar di dunia maya?
Bahkan dengan kemampuan bahasa asing yang seadanya.


CHAPTER 2 : What's your project? What's your mind?

Sebenarnya apa yang kamu pikirkan?
Kenapa kamu tidak bisa hanya memikirkan tentang dirimu sendiri.
Fokus dengan projectmu sendiri.
Saya ingin bertanya pada diri saya seperti itu.

CHAPTER 3 : I Can Make It. But, I Can't  Present It Well

Ini lebih kepada bagaimana kita menpertanggungjawabkannya.
Karena mereka hanya melihat apa yang ditampilkan saat itu.
Tidak ada penilaian akan suatu proses panjang.
Saya tahu saya bukan seorang penampil yang baik.
Saya adalah orang yang biasa bekerja di balik layar.
Karena itulah saya tidak terlalu berekspektasi tinggi untuk hasil akhirnya.
Apalagi yang saya buat adalah sesuatu yang baru untuk saya bahkan mereka.

CHAPTER 4 : I Know You Have Ability!

Sebenarnya kalau bisa saya ingin mereka berhenti mengatakan hal-hal seperti itu.
Hal yang terasa membebani saya.
Tapi saya tidak bisa.
Hanya berakhir dengan mendiamkannya saja.
Saya hanya seorang idiot yang terlalu ingin banyak tahu.
Hingga harus ikut campur dalam project orang lain.
Bukan seperti apa yang kalian katakan.
Lagian untuk apa kalian mengatakannya.
Cukuplah kalian tahu itu.
Kalian tidak akan memberikan suatu perubahan yang berarti untuk hidup saya.
Kalian tidak bisa memberikan penilaian kalian.

CHAPTER 5 : FINISH
Bermanfaat dan dimanfaatkan itu berbeda bukan?
Berbeda di rasa selain disusunan huruf untuk membentuk kata itu sendiri.
Senang rasanya semuanya sudah mencapai garis finish dengan jalannya masing-masing.
Atas usaha mereka masing-masing.


Minggu, 16 Feb 2014
07:32





Saturday, February 15, 2014

If we are family, why we didn’t life in a same place together

8:36 PM 0 Comments
“emang mereka yang nggandeng anak kecil itu bapak ibunya apa? Percaya?! Bisa aja yang nggandeng itu pembantunya lhoh”, ucap temen gue.
“gue bisa bedain dari apa yang gue lihat”, jawab gue.
“terserah deh. Aneh. Nikmati sana,” lanjutnya sambil tertawa.
Yap! gue udah biasa dibilang aneh sama temen-temen gue. Sekarang ini gue remaja. Gue broken home. Tapi, gue sekarang nggak ngikut siapa-siapa. Gue nge-kost. Habis orang tua gue terlampau sibuk. Pernah gue waktu SMP dititipin sama eyang gue. Jadi gue tinggal di rumahnya. Stress gue. Kuping gue panas. Pada saling jelek-jelekin mantan mantunya. Makanya gue sekarang lebih milih buat sekolah di luar kota biar gue bisa tenang. Hidup gue tentram dan damai. Well, dari SMP sampai SMA gue beruntung banget sekolah gue ini deket sama sekolahan SD dan juga TK. Gue nggak tahu kenapa gue suka ngelihat anak-anak TK dan SD pada dianter jemput orang tua mereka. Mungkin gue kesepian, merindukan kasih sayang orang tua. Gue pengen kayak mereka. Jadi keinget sama lagunya Last Child yang judulnya Diary Depresi ku. Liriknya yang pas bagian : “ Wajar bila saat ini ku iri pada kalian yang bahagia berkat suasana indah dalam rumah” …ngena banget sama kehidupan gue. Hehe. Tapi, apa mau dikata orang tua gue udah pisah. Dan sampai sekarang gue nggak ngerti kenapa harus pisah. Kalau kelurga kenapa nggak tinggal bareng di tempat yang sama? Kenapa?
Well, balik lagi ke kebiasaan gue. Emang kata temen gue benar. Kebanyakan dari mereka itu memang dijemput sama pembantunya, tapi ada juga kok yang emang bener-bener dijemput sama ayah atau ibu mereka. Gue nikmati banget moment-moment kayak gini. Karena kost-kost-an gue nggak jauh juga dari sekolah gue jadi gue ke sekolah itu pagi-pagi banget buat ngelihat anak-anak TK dan SD itu diantar orang tuanya. Terus kalau jam istirahat gue ngelihat mereka dijemput orang tuanya. Kata temen gue kebiasaan gue ini aneh.
Selain itu, gue juga suka ngelihat kalau ada orang tua yang jalan bareng sama anaknya yang masih kecil buat sholat di masjid. Adem man!!! Gue nglihatnya enak banget. Keluarga harmonis dan bahagia.
Gue nggak tahu sampai kapan gue harus kayak gini. Gue cuma bisa merasakan adanya kasih sayang nggak secara langsung tapi lewat orang lain, dari apa yang gue lihat. Dan yang gue pelajari dari hidup gue adalah gue nggak mau besok anak gue hidupnya kayak gue. Cukup gue aja. Gue bakalan sayang banget sama keluarga gue.

Senin, 25 April 2011
23:10

RAIN OF SORROWS

8:31 PM 0 Comments
hari ini aku benar-benar terjatuh.
Aku terpuruk dalam kekecewaan.
Aku sangat sedih.
Aku harapkan hujan ini tak cepat reda.
Karena aku masih membutuhkannya tuk redakanku.
Biarkan aku larut dalam kesalku dan sesalku bersamanya.
Menenangkanku,
Menjernihkan pikirku,

Dad, I’m still stand up after finish but sorry dad I’m not the winner

8:28 PM 0 Comments
Ayah.Dialah satu-satunya orang yang penuh kasih menyayangi aku dengan tulus. Ya, ibuku meninggal setelah melahirkanku jadi aku tidak tahu bagaimana rasa kasih sayang seorang ibu. Aku hanya bisa merasakan kasih sayang seorang ayah. Tak apa-apalah. Aku rasa semua orang tua di dunia punya tujuan dan harapan yang sama untuk buah hatinya. Saat aku nakal ayah bilang padaku “Nak, apa kamu tahu. Ibumu pasti tidak suka melihat kamu nakal seperti ini. Sama seperti ayah”. Saat itu aku sedih karena aku merasa mengecewakan ayah dan juga ibu yang sudah tenang berada di suatu tempat yang indah. Aku pun bertekad untuk membanggakan ayah yang sudah susah payah membesarkanku sampai saat ini umurku 12 tahun.

Entah kenapa aku tidak pernah merasa puas. Aku selalu saja merasa kalau aku belum bisa membanggakan ayahku. Bagiku menjadi 3 besar di kelas dan membuat nama ayah selalu disebut di depan wali murid yang laen saat penggambilan raport selama ini belumlah membuat ayah bangga. Aku ingin membanggakan ayah.

Bulan ini bulan jadi sekolahku. Akan diadakan perayaan dimana ada lomba2 antar sekolah juga. Dan aku memberanikan untuk ikut 3 lomba. Lomba mengarang, lomba lari dan pidato. Teman-temanku merasa heran dengan pilihanku. Ya! Karena mereka tahu kalau aku nggak jago di bidang olahraga dan aku juga anaknya pendiem. Jarang terlihat ngomong di depan umum. Tapi, entahlah aku ingin mencobanya. Aku ingin membuat ayah bangga. Kalau aku juara aku persembahkan pialaku untuk ayahku. Peserta diberi waktu 2 minggu untuk mempersiapkan diri. Karena acaranya ada di tengah bulan. Dan kata pihak sekolah juga para orang tua boleh datang ke sekolah. Aku senang bukan main.

cinta : kesepakatan bukan kesepihakan

8:10 PM 0 Comments
Cinta adalah suatu kesepakatan, bukan suatu kesepihakan. Suatu kesepakatan untuk mengambil komitmen. Dan bukanlah suatu kesepihakan yang hanya dijalani satu pihak saja. Yang sepihak bukanlah cinta namanya. Karena cinta itu haruslah berjalan dua arah. Seperti mencintai dan dicintai.
Jadi, kesimpulannya adalah cinta tidak bisa dieksperimenkan. Mengapa? Yah karena cinta itu bukanlah suatu kesepihakan. Hehe. Kayaknya kesimpulannya nggak nyambung yah? Hehe.
Okeh, dikit aja deh nulis tentang cinta-cintaannya soalnya kagak banyak ngerti juga. Haha.


Kamis, 11 Agustus 2011
19:03