Tuesday, February 21, 2017

Negeri Van Oranje: The Quietest, Wicak!

8:47 AM 2 Comments
Wicak Adi Gumelar alias Wicak. Saya sedang tertarik untuk membahas tentang karakter ini. Wicak merupakan salah satu karakter yang ada di novel yang kemudian di filmkan yang berjudul “Negeri Van Oranje”. Saya sendiri nggak membaca novelnya dan hanya menonton filmnya saja. Kalau di filmnya karakter Wicak diperankan oleh Abimana Aryasatya.
Wicak ini paling pendiam di antara sahabat-sahabatnya. Pembawaannya kalem bangetlah. Ada dua part Wicak di film yang saya sukai. Pertama, ketika Wicak mengajak Lintang jalan-jalan.
Lintang: “Gue heran, loe kan paling pendiam di antara kita semua. Tapi, temen lu tuh banyak banget”.
Wicak: “Gue susah ngapalin nama orang”
Lintang: “I know. Gue yakin sampai saat ini pun pasti elo nggak hafal nama panjang gue”
Wicak: “Bokap waktu kedua kali ketemu nyokap di kampus, lupa nama nyokap siapa tapi dia ingat satu hal perempuan ini yang ngasih tau dia kemana arah perpustakaan kampus waktu awal-awal kuliah”
Lintang: “Jadi bokap sama nyokap lu itu satu kuliah?”
Wicak: “Heem. Jadi gue nggak pernah lupa apa yang udah orang lakuin ke gue. Gitu cara gue ngafal orang dan menghargai mereka”
*Wicak menceritakan soal beberapa orang yang pernah dia temui*
Lintang: “Jadi loe sama sekali nggak tau nama-nama mereka?”
Wicak: “Mereka ga perlu tau nama gue siapa. Gue cukup ingat mereka dengan satu kejadian aja. Itu yang bikin bokap sama nyokap gue kawin”
Lintang: “Wow!”
Wicak: “Kenapa senyum-senyum?”
Lintang: “Nggak Apa-apa. Tumben aja gue hari ini denger suara loe”
Wicak: “Emang biasanya lu nggak pernah denger suara gue?”
Lintang: “Bukan gitu. Maksud gue…”
Wicak: “Iya gue ngerti”
Lintang: “Cak, kalau misalkan loe lupa sama nama gue. Loe akan panggil gue apa?”
Wicak: “Perempuan yang rela bangun pagi-pagi dan mandi buat nemenin gue ke Schipol”
Lintang: “Cuma itu?”
Wicak: “Cukup satu kejadian, Tang. Cukup satu”
wicak

Part kedua adalah ketika momen confession nya Wicak ke Lintang
Lintang pergi berlari ninggalin para sahabatnya karena dia merasa kalau dia dijadikan bahan taruhan oleh mereka. Dan akhirnya yang berhasil menemukan Lintang itu adalah Wicak.
Lintang: “Gue pikir loe semua beda. Gue pikir loe sahabat gue”
Wicak: “Nggak. Nggak gitu. Nggak seperti pikiran loe”
Lintang: “Apa jangan-jangan selama ini gue Cuma jadi ajang pembuktiaan diri buat kalian semua”
Wicak: “Kita nggak sejahat itu”
Lintang: “Trus apa alasannya?”
Wicak: “Alasan gue. Gue sayang sama loe”
Lintang: “Gue juga sayang sama loe semua..”
Wicak: “Lebih dari sahabat. Mungkin selama ini kehadiran gue selalu ketutup sama kehadiran Gerry (keterangan: karena diantara sahabat-sahabatnya yang lain Lintang paling dekat dengan Gerry) jadi loe nggak pernah nyadarin itu. Inget? Loe pernah nanya siapa yang ngirim bunga? Gue yang ngirim. Karen ague nggak mau loe sedih. Karena gue care sama loe. Tapi, gue takut ngomongnya. Gue takut malah elo ngejauhin gue. Tapi, gue nggak mau nutupin perasaan gue sekarang. Inget di Wagenigen? Jaket yang loe bilang lumayan itu? Gue bela-belain pinjam dari teman gue”
Lintang: “Cak, maaf”
Wicak: “Mungkin gue nggak pernah pintar ngambil hati loe. Mungkin gue nggak pernah pintar ngerangkai kata. Mungkin keberadaan gue selalu ketutup sama yang lain. Gue juga nggak tau sekarang gue ngomong apa. Dan mungkin gue terlihat bodoh di mat aloe sekarang. Tapi, lebih baik gue kelihatan bodoh sekarang daripada nanti gue nyesel. Karena gue nggak pernah ngomong ini ke elo. Gue saying sama loe. Nggak perlu loe jawab sekarang, Plakat St. John aja baru mengabulkan permintaan setelah 6 bulan lagi. Gue cinta sama loe, Anindita Lintang Persada”

Kenapa saya tertarik dengan karakter Wicak di Negeri Van Oranje? Karena sebagai seorang yang pendiam juga pastilah bisa mengerti apa yang dirasakan oleh Wicak. Sebagai seorang yang paling pendiam dalam lingkaran persahabatan tentu jarang ada yang notice soal keberadaannya. Ada atau nggak adanya seorang pendiam nggak membuat beda yang terlihat signifikan. Seorang pendiam selalu tenggelam alias ketetupan oleh orang dengan pembawaan yang ramai. Tapi, pendiam memang sering kali diam-diam memperhatikan yang lain di dalam diamnya.
Dan, saya juga hampir mirip sama Wicak yang kesusahan dalam mengingat nama orang. Dan yang bantu untuk mengingat siapa orang itu ya memang suatu momen. Sebenarnya gini.. saya nggak bisa sekali ngelihat orang dan sekali dengar namanya langsung bisa hafal orang itu. Saya perlu membuat diri saya familiar dengan wajah orang itu agar saya bisa hafal juga siapa orang itu.
Oiya, jarang ada yang mau temenan sama anak pendiam. Karena penilaian orang-orang itu anak pendiam nggak asik dan membosankan. Dan kalau ada orang mau bicara sama anak pendiam itu rasanya kok bahagia ya.. ada rasa seperti didengarkan juga. Hehehe.

Well, cukup sekian pembahasan soal sosok kalem dan pendiam bernama Wicak. Sebelum saya akhiri tulisan saya ini, saya ingin menuliskan sedikit tentang film Negeri Van Oranje. Film ini menampilkan pemandangan negara di benua eropa yang indah. Beuuhh, bakalan bikin kalian pengen kesana deh.

Ge Pamungkas as Daus | Arifin Putra as Banjar
Tatjana Saphira as Lintang
Abimana Aryasatya as Wicak | 
Chicco Jerikho as Gerry
Oiya, sebelum saya menonton film ini.. ada yang bilang kalau film ini mirip dengan Korean drama “Reply Series”. Saya sendiri sudah menonton Reply Series (Reply 1997, Reply 1994, Reply 1988) dan kemiripannya dengan film ini adalah sama-sama ada husband hunting nya. Hehehe. Karena penceritaan persahabatan di antara mereka itu pakai alur mundur dimana pas awal-awal ada scene pelaminan. Pengantin wanitanya mengenang kisah persahabatan mereka, dimana ternyata salah satu dari sahabatnya itulah yang menjadi pengantin prianya. Yang penasaran sama filmnya dan penasaran dengan karakter Wicak yang sudah saya bahas dari awal silakan ditonton sendiri aja filmnya.

Thursday, February 16, 2017

Di Luar Dugaan

7:44 AM 0 Comments
Terkadang saya merasa kalau saya bertindak di luar dugaan. Hehehe. Yang aslinya pemalu bisa menjadi seperti orang SKSD (Sok Kenal Sok Dekat). Kejadian seperti itu terjadi beberapa waktu lalu. Dimana saya sedang ingin berhotspot ria. Eh, ternyata akun saya sudah nggak bisa dipakai login. Waktu itu saya sedang ingin mem-backup online file-file saya. Jadi butuh banget koneksi internet buat mengunggah file-file itu. Dan, akhirnya saya dengan polos dan santai minta ke orang yang di sebelah saya buat bagi info akun yang dia punya. Untunglah orangnya baik. Dia memberi tahu saya username dan password punya temannya. Saya pun akhirnya bisa login. Padahal saya beneran nggak kenal sama orang yang di sebelah saya itu.
Lagi, ketika saya hendak berhotspot ria juga ternyata saya lupa membawa charger laptop saya. Padahal laptop saya nggak bisa dipakai kalau nggak sambil discharge laptopnya. “Pantesan kok tas saya keliatan flat gitu..ternyata saya lupa bawa charger laptopnya” batin saya begitu sadar saya nggak bawa charger laptop. Berhubung sudah pergi jauh-jauh dari rumah ke tempat hotspot-an dan rasanya malas plus sayang buang-buang  bensin juga kalau harus balik ke rumah lagi akhirnya saya memutuskan untuk meminjam charger siapapun yang ada disana yang mau kasih pinjam saya dan chargernya cocok dengan laptop saya. Hehehe. Setelah usaha meminjam charger dari orang yang pertama gagal karena chargernya beda, akhirnya saya berhasil pinjam dari orang yang kedua yang nggak saya kenal juga. Sepertinya nggak baik sih charger beda merk asal dipakai gitu. Tapi, mau gimana lagi… darurat. Hehehe. Saya bisa meminjam chargernya sekitar hampir 2 jam. Terima kasih ya… walaupun saya sebenarnya dalam hati merasa nggak enak juga.
Begitulah ceritanya, saya sendiri nggak menyangka saya bisa seperti itu. Hahaha. Maybe karena kepepet juga ya. The power of kepepet. Hehehe. Saya terkejut oleh diri saya sendiri yang terkadang bisa bertindak di luar dugaan. Hehehe.
Kamis, 16 Februari 2017
07:33

Saturday, February 11, 2017

"AKU JAHAT"

12:23 AM 0 Comments
“AKU JAHAT”, ucap keponakan saya yang cewek yang masih berusia sekitar 4 tahunan. Pertama kali mendengar kalimat itu saya agak heran aja. Dia bisa bilang seperti itu tahu dari mana ya? Hehehe. Seperti korban sinetron ya... Duh miris! Dia kok hapal dialog tokoh antagonis begitu. Karena nggak cuma sekali aja dia bilang seperti itu.
Dan ketika dia mengucapkan itu di depan saya, saya menanggapinya dengan bercanda dengan bilang “iya kamu jahat. Suka menganiaya aku. Suka mukulin aku. Hahaha”. Dan…PLAKKK!!! Tangannya dia sudah mendarat dengan tidak santai di muka saya. Lumayan deh rasanya…SAKIT! Hahaha.

Thursday, February 9, 2017

Ideal Daughter in Law

12:56 PM 0 Comments
I'm just realize that now my friends are at the point become ideal daughter-in-law of their mother-in-law. Meanwhile, i'm still at the point learn how to be good daughter. Hehehe.
Seorang teman yang sudah saya kenal dari SMP bahkan sampai ke SMA dan kuliah kita tetap bareng, dalam beberapa bulan ke depan akan menikah. Rasanya terlalu cepat dan mendadak. Hanya nggak menduga saja kalau bakal secepat ini. Hehehe. Sebenarnya ketika berkumpul pas momen lebaran di rumah salah seorang teman SMA, kita iseng-iseng menghitung soal tahun untuk menikah. Kita menghitungnya dalam tahun hijriyah. Hehehe. Sampai di suatu sore, dia bertamu ke rumah saya. Sebelumnya sewaktu chat di BBM sebenarnya saya sudah bingung. Kami membicarakan undangan nikah dari teman kuliah kami. Undangan punya saya dibawa dia, dan saya sudah bilang kalau undangannya nggak perlu dikasihkan ke saya biar ada di dia aja nanti langsung ketemuan aja pas hari H kondangannya. Dia malah bilang "Eh ini aku sekalian mau ngasih jajan kok". "Jajan? Kok tiba-tiba ada jajannya? Emang undangannya ada jajannya?" pikir saya. Ternyata setelah di rumah saya dia baru cerita kalau dia habis dilamar. Glad to hear that. I'm also happy as your friend.
Teman saya bercerita kalau dia kenal dengan pria yang melamarnya ini juga belum lama. Dia kenal dari teman KKNnya yang mana istrinya itu adalah teman KKN saya dan teman SMP kami (tapi bukan teman sekelas). Jadilah kalau sudah menikah mereka bakalan bertetangga. Hehehe. Calon suami teman saya ini lebih muda dua tahun dari teman saya. Karena lebih muda, awalnya ada rasa sungkan mendekati teman saya di BBM. Teman saya pun sebenarnya tipe yang kalau agak nggak kenal gitu malas buat nanggepin. Tapi, akhirnya setelah teman saya menanggapi, calon suami teman saya ini langsung serius. Bukan mau berhubungan cuma buat main-main. Bahkan langsung minta ke teman saya buat dikenalin ke ibunya teman saya. Teman saya juga cerita ke saya kalau rasanya dia seperti sudah pernah bertemu dengan calon suaminya itu jauh sebelum mereka berdua benar-benar bertemu. Jadi, seperti sudah pernah bertemu di mimpi gitu. Kyaaa... Suka lah sama yang teman saya bilang ini. *mendadakbaper*
Teman saya ini akan menikah dengan orang yang bukan sekota dengannya. Lebih tepatnya calon suaminya itu tinggal di kota tetangga (kota sebelah). Sebelumnya ada teman kuliah kami juga menikah dapat orang di kota itu juga. Duh, ini jodohnya teman-teman saya ada di kota tetangga (kota sebelah) semua. Hehehe. Saya bingungnya mereka ini habis nikah nanti sperti menjalani hubungan LDR. Cuma bareng kalau pas weekend dikarenakan pekerjaan mereka.
Untuk teman saya yang mau menikah... Sehat selalu ya... (soalnya beberapa hari yang lalu dia habis kecelakaan di jalan. Alhamdulillah nggak begitu parah). Semoga dilancarkan sampai hari bahagiamu. Dari saya temanmu yang ingin melihatmu di hari itu.
Mari bahagia bersama, dengan pasangan masing-masing tentunya. Hehehe. Untuk sampai pada titikmu saat ini rasanya saya membutuhkan waktu yang cukup lama. Because my life so complicated. Hehehe. Tapi, tetap do’akan saya ya… segera bertemu dengan jodoh saya dan segera menikah. Aamiin.

Rabu, 08 Februari 2017
17:25

Friday, February 3, 2017

The ‘A’ Crew

11:08 AM 0 Comments
Mutusin buat nulis ini supaya kelak saya nggak pernah lupa sama mereka. Entah kenapa kebersamaan kami yang cuma sebentar itu membuat saya takut kalau-kalau saya lupa dengan nama mereka.
Sekitar bulan September - Oktober 2016, saya bertemu mereka sebagai rekan kerja. Menyenangkan atau mengesalkannya mereka ya sudahlah, nggak semua orang kan bisa cocok. Hahaha. *ngebicarain kepribadian*
Mereka adalah:
Mbak Evi : Front office, Wakil Owner
Mbak Umma : Front office, Sekretaris
Admin Team:
Mbak Novi : Lucu, suka nyanyi, easy going
Mbak Rosi : Gahar (hehehe)
Mbak Rita : Manja (harus dituruti dulu, dibantuin dulu), cepet ngambekan, kalau istirahat sering ketinggalan. Hehehe.
Mbak Etik : apa adanya, tangguh.
Mbak Zul : Baik, masuk hamper berdekatan waktunya sama saya.
QC Team:
Bu Sri : Lucu, paling tua jadi ya musti respect lah
Bu Sulasih : penakut, khawatiran
Trio Demak (Siti, Lia, Ika) : Lucu, masih polos2, suka sama sinetron hahaha, religius
Vita : pegawai paling lama, baik, orang demak, suka galau soal pacar
Mbak Dewi : Bukan asli orang kudus, baik, humble
Anggun : Tetangga saya sendiri, beda RT doang, suka naik gunung
Rissa kecil : calon adik iparnya mbak rosi, masih kecil belum ada 18 tahun tapi pergaulannya udah berani hehehe, lucu, suka muter lagu dangdut. Hahaha. Yang laen juga sih sebenarnya, sampai heran saya.
Elia : awal-awal datang sama mbaknya. Lucu.
Eva : temannya Elia. Pernah jadi SPG di Ramayana.
Ani : orang prambatan, adik ini cantik hehehe
Fany : Keponakannya owner
Duh lupa lagi siapa namanya, ibu-ibu/mbak-mbak ya (?) yang di hari pertama udah memberikan sambutan. Hehehe.
Pasar Team:
Eka : yang gowes sepeda
Mbak Olip : lucu, baik
Stokis Team
Mbak Rissa : baik, kalau jalan bunyi sendalnya. Hehehe. Sering digodain sama bu sri dkk kalau pas lagi komunikasi sama pacarnya lewat handphone. Ditinggal suaminya meninggal dan punya satu anak. Sekarang sudah membuka hati buat orang lain.
Mas Hasan : ternyata kembar, baik, ramah.
Crew Cowok:
Anam : keponakannya owner
Ahmad Susanto alias Jo  : Lucu
Mas Bagus : kalau ngomong suka diulang-ulang, baik.
Terkadang saya merindukan kalian……. Terima kasih untuk kebersamaan yang singkat dalam susah maupun senang. Hehehe.

02 Februari 2017

21:50