Monday, September 7, 2015

Apa mati semudah itu?

11:03 PM 0 Comments

29 Agustus 2015. Seorang teman menuliskan di Facebooknya seperti ini*:

“Masih juga sedih? Terpuruk? Putus asa? Merasa nggak punya harapan? Mati aja!!!

Karena orang yang nggak punya harapan sama dengan MATI”

(* saya ambil bagian terakhirnya saja)

MATI?

Ya. Saya ingin membahas tentang itu. Bukan mau bahas tentang orang yang terlalu meratapi kesedihan, keterpurukan, ke-putus-asa-an hingga tanpa harapan hidup.

“Mati aja!!!”. Kalimat yang mengandung unsur perintah. Kalimat yang menyuruh untuk melakukan sesuatu. Setelah membaca tulisan teman saya itu, keluarlah suatu pertanyaan di benak saya “ Apa mati semudah itu?”.

Teman saya yang lain juga pernah nulis di Facebooknya “pengen mati”. Pikir saya waktu itu juga sama “Apa mati semudah itu?”.  Kemudian saya berpikir “Pengen mati. Kalau mati beneran berarti itu namanya bunuh diri. Kamu bisa membunuh diri kamu sendiri, jadi kamu tipe orang yang suka melukai diri sendiri ya?”.

Saya nggak habis pikir dengan tipe orang yang seperti itu. Nggak bisa membayangkannya juga. Karena saya rasa saya nggak bisa menjadi tipe orang yang seperti itu. Ngeriii lah...

LIKE A PRO!

11:00 PM 0 Comments
Bantu orang. Itulah yang saya pikirkan ketika saya melakukan pekerjaan. Seperti nggak profesional ya menyebut alasan seperti itu? Tapi, nggak tahu juga saya mikirnya masih seperti itu. Terus bikin candaan sendiri “Kalau kamu kerja mikirnya niat bantu orang. Berarti nggak dibayar nggak apa-apa dong?”. Kemudian saya terdiam sendiri. Hehehe. Sebenarnya bukan begitu juga sih... Saya ini sepertinya bukan tipe orang yang money oriented. Saya tahu orang hidup butuh uang untuk mencukupi beberapa kebutuhannya. Tapi, nggak tahu juga ya... saya pernah bilang begini ke mama saya: “Uang itu bisa menyelesaikan masalah tapi juga bisa mendatangkan masalah”. Terus mama saya menanggapi “Makanya sedikit nggak apa-apa yang penting barokah”. Teman saya pernah bertanya ke ayahnya tentang bagaimana sih usaha yang berkah itu? Jawaban ayahnya teman saya “saat kamu serba cukup. Misalnya kalau kamu pengen beli apa gitu kok pas usahanya lancar. Pas nggak ada keperluan ya biasa-biasa aja jualannya. Biasanya uang dari usaha yang barokah itu awet. Nggak lari buat hal-hal nggak penting. Kalau uang dari hasil usahamu itu tidak tahu larinya kemana (maksudnya sudah bekerja tapi seperti nggak terlihat hasilnya apa-apa karena uang tidak jelas kepakai buat apa saja), perbaiki lagi niat usahamu untuk apa”. Jadi maksud saya bantu orang adalah saya semata-mata ingin apa yang saya lakukan itu niat ibadah. 

Rabu, 02 September 2015
20:58

Wednesday, September 2, 2015

Kenapa Nggak Jadi Guru Les Aja?

9:20 AM 0 Comments
Ada teman yang tanya “kenapa nggak jadi guru les aja. Kamu kan pinter”.

Saya pernah mikir saya ini seperti tipe orang yang suka belajar. Dan kemudian muncul-lah pertanyaan ke diri saya sendiri “Kenapa nggak bekerja di bidang pendidikan aja. Kalau suka belajar kenapa nggak tetap di dunia pendidikan aja?”.

Saya pernah dulu ketika semester 5 menjadi guru les. Tidak lama sih. Untuk menjadi seorang pengajar pun saya itu tidak punya public speaking yang baik. Kalau mengajari teman sendiri secara privat gitu saya masih bisa. Tapi, kalau untuk mengajar, tampil di depan umum saya belum ada kemampuan untuk sampai pada tingkat itu.

Untuk Guru Les sendiri pun saya ada pemikiran sendiri. Jujur selama ini saya cuma pernah sekali saja ikut Les di suatu bimbingan belajar. Tepatnya pas saya SMP. Itu juga cuma pas kelas 1 atau 2 gitu. Saya biasa belajar sendiri. Dan saya kalau belajar itu nggak cukup cuma 2 jam. Saya belajar bisa sampai 4 atau 6 jam. Jadi menurut saya les cuma 1 sampai 1,5 jam itu nggak efektif. Saya kalau belajar suka lupa waktu. Hahaha. Aneh ya? Biasanya yang lupa waktu itu kalau sudah maen game.

Monday, August 31, 2015

Intermezzo

9:55 PM 0 Comments
Intermezzo. Ya, salah seorang guru saya pernah menyebutnya demikian. Untuk suatu obrolan atau cerita di sela belajar mengajar di kelas. Pasti sering baca di meme comic kalau guru sudah bercerita di kelas buat murid-murid itu adalah suatu kabar gembira. Hahaha. Merdeka! Karena nggak harus pusing-pusing membicarakan pelajaran. Intinya intemezzo membantu membunuh jam pelajaran. Berkat intermezzo jadi nggak harus full belajar sesuai dengan jadwalnya.

Biasanya intermezzo diisi dengan lelucon atau cerita-cerita tentang pembelajaran hidup yang dapat kita ambil hikmahnya. Diberikan di sela-sela waktu mencatat pelajaran atau memang KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) sudah terlihat begitu memfrustasikan dan butuh penyegaran. Ketika saya di madrasah (sekolah mengaji di sore hari), terkadang 15 menit sebelum jam pulang guru saya memberikan cerita tetang nabi-nabi atau cerita tentang akhlaq-akhlaq terpuji atau tentang bagaimana Allah itu Maha Melihat. Kalau ketika saya SMA ada juga guru yang lucu. Ketika intermezzo dia menceritakan tentang keluarganya. Tapi, di depan ceritanya beliau selalu menekankan kalau beliau tidak berniat sombong. Tapi, lebih enak cerita tentang keluarganya sendiri karena tahu kebenarannya daripada bercerita tentang orang lain yang belum tahu tentang kebenarannya. Dia bercerita tentang bagaimana anaknya selalau menghubungi kedua orang tuanya sebelum ujian semester untuk meminta doanya. Btw, anaknya mahasiswa kedokteran. Hahaha. Teman-teman yang mendengarkan langsung meng-“O” berjamaah. “kedokteran” tambah mereka lirih setelah ber-“O” ria.
Kalau saya sendiri senang-senang saja dengan adanya intermezzo. Karena dari sana kita juga dapat pelajaran juga. Kita jadi bertambah tahu tentang hal-hal di luar pelajaran asli.

Mudahnya Bilang Suka

9:49 PM 0 Comments
"ANDRE...." sapanya penuh semangat.

Dia anak perempuan kelas 1 SD yang tinggal di depan rumah saya, masih kerabat saya juga sih. Ceritanya Andre, teman sekelasnya kemarin lewat depan rumahnya sewaktu dia dan saya sedang main bersama. Hahaha.

"Itu anak yang kamu suka ya?" tanya saya kemudian.

"Iya. Dia kalau sekolah ganteng" terangnya.

Hahaha. Ini anak memang kecentilan. Dari PAUD, TK, sampai SD ada aja gebetannya. Saya tahu kalau Andre itu gebetannya karena dia sendiri yang cerita. Hahaha. Kalau gebetannya dia sebelumnya namanya Sigit. Hahaha.  Beberapa waktu yang lalu setiap pagi sebelum dia berangkat sekolah  kami sering bermain bersama. Biasanya dia juga membantu saya menyapu halaman.

Anak kecil memang polos banget ya... kayaknya gampang bener gitu bilang suka ke orang. Gampang bener mengakui perasaannya. Coba aja kalau sudah SMP atau SMA nanti. Pasti malu-malu. Hahaha. Kata temen kalau kita sudah punya rasa malu ke lawan jenis kita sudah dewasa. Kalau saya nggak ke lawan jenis nggak ke sesama jenis tetap saja pemalu. Hihihi. Jadi ingat film 5cm. Ada dialog salah satu tokoh disana, Riani yang bilang kalau jadi cewek itu nggak enak. Nggak bisa ngomong duluan. Karena lazimnya cowok duluan yang harus menyatakan perasaan. Meskipun sekarang ini ada yang bilang sudah eranya emansipasi perempuan dimana cewek bisa mengatakan perasaannya duluan. Ah tau ah... hehehe.