Saturday, August 29, 2015

Teman Dekat

10:57 PM 0 Comments
Temenan kalau memang sudah dekat banget itu seperti itu ya...

Kalau ngomong to the point. Blak-blak-an.

Bodo amat kalau menurut orang lain itu kasar.

Hahaha.

Hina-hinaan tapi habis itu ketawa bareng.

Kalau manggil nama temannya juga bukan nama asli tapi nama julukannya.

Kalau nanyain kabar juga bukan “Apa kabar?” tapi “Masih idup lo?”

Hahaha.

*Sayangnya ini bukan cerita saya. Cerita pertemanan orang lain yang saya sendiri dibikin bingung sama mereka. Hehehe. Mereka di dunia nyata dan dunia maya tampak berbeda. Apa yang terlihat, apa yang tertuliskan di dunia maya, dan apa yang sudah sempat terdengar sampai di telinga tampak tak sama. Ah sudahlah...

Talk active Couple

10:53 PM 0 Comments
Ada sedikit cerita lucu pas lebaran kemarin dari mama. Siang itu sepulang berkunjung untuk bermaaf-maaf-an dengan teman SMA, di rumah ternyata ada tamu dari mama. Sepasang suami-istri. Jadilah di ruang tamu itu ada mama serta bapak juga ikut menemani mengobrol tamu ini. Saya sendiri langsung masuk kamar untuk beristirahat sebentar. Tidak lama kemudian tamu itu pulang. Saya pun keluar kamar dan kemudian bertanya ke mama siapa tamu yang datang tadi. Mama menjawab kalau tamu yang datang teman kerjanya dulu. Terus, mama malah tiba-tiba cerita sendiri ke saya. Jadi, Mama bingung ngadepin mereka. Dua-duanya ngomong semua. Mama bingung harus ngelihat ke yang mana. Yang istri ngomongnya belum selesai eh yang suami sudah ikutan ngomong menambahi. Sama-sama pengen ngomong, sama-sama pengen cerita. Sampai-sampai yang istri memukul kaki suaminya supaya diam nggak usah ikut ngomong. Hahaha. Tawa saya meledak. Begitu juga mama yang menceritakan tentang tamunya itu ke saya. Hahaha. Pasangan yang sama-sama doyan ngomong.

Monday, August 24, 2015

Berbagi

10:15 AM 0 Comments
Lumayan cukup lama juga ternyata saya tidak membuat postingan di blog saya ini. halo.... hehehe. Enaknya nulis tentang apa ya... okeh, saya akan cerita tentang aktivitas saya di bulan ramadhan tahun ini serta lebaran saya.
Di bulan ramadhan kali ini, lebih dari sekali saya buka bersama di luar. Buka puasa bersama dengan teman-teman dan bukan dengan keluarga. Buka puasa di rumah teman setelah kami pergi takziah ke rumah salah seorang teman kami yang ibunya meninggal. Selain itu buka bersama dengan teman-teman di tempat makan dengan teman-teman SMA setelah acara bakti sosial di salah satu panti asuhan dekat rumahnya teman SMA saya. Ya, jadi tahun ini ada salah seorang teman SMA saya yang berinisiatif mengadakan acara bakti sosial dengan anak-anak yatim-piatu di panti asuhan. Awalnya pengen acara buka bersama juga tapi ternyata jadwal anak panti asuhannya tidak memungkinkan. Jadi, kami hanya mengadakan acara santunan saja. Acaranya dimulai sore hari tapi kami sedari siang sudah sibuk menyiapkan semuanya. Hadiah-hadiah kecil untuk anak-anak yang berani menjawab quiz dari kami, amplop berisi uang untuk santunan, serta menghubungi bapak ustadz untuk mengisi ceramah. Sore tiba, anak-anak sudah terlihat berkumpul di panti asuhan. Sebenarnya anak-anak ini tidak tinggal di panti asuhan tapi tinggal di lingkungan sekitar panti. Dan kami berkumpul di tempat seperti aula punya yayasan panti asuhan tersebut. Ini kali kedua saya mengikuti acara berbagi dengan anak-anak yatim piatu di panti asuhan. Jujur saja rasanya menyenangkan. Oiya, kami datang membawa nama almamater SMA kami, meski yang datang hanya beberapa orang saja. Tapi, kami menggalang dana tambahan tidak hanya dari kami. Tapi, dari keluarga dan teman-teman kami juga. Ketika acara quiz banyak hal-hal lucu serta mengharukan yang terjadi. Dua orang teman saya bertugas untuk membawakan acara quiz. Pertanyaan simple diberikan. Pertanyaannya adalah tentang siapa nama ketua yayasan. Kemudian ada salah seorang gadis kecil yang mengajukan diri untuk menjawab. Saat teman saya bertanya nama dari gadis kecil itu terjadilah kesalahpahaman yang memunculkan gelak tawa kami semua. Soalnya pikir teman saya gadis kecil itu mengatakan nama dari ketua yayasan dan bukan namanya sendiri. Sampai-sampai teman saya berkata juga,"wah namanya cantik seperti orangnya". Padahal nama yang gadis kecil tadi sebutkan adalah nama seorang laki-laki bukan perempuan sementara ketua yayasannya adalah seorang bapak-bapak. Teman saya mungkin karena kurang fokus jadi tidak menyadari dengan cepat kekeliruan itu. Padahal kami menyadari hal itu. Hehehe. Alhasil, teman saya malu dan meminta maaf ke ketua yayasan. Hehehe.

Monday, June 1, 2015

Mendidik Anak

2:30 AM 0 Comments
Semua orang mungkin pernah berandai-andai tentang kehidupan masa depannya. Membayangkan dan kemudian membuat rencana-rencana tentang apa yang akan dilakukannya di masa depan. Salah satunya mungkin adalah tentang berkeluarga serta mendidik anak. Tapi, sebenarnya saya ingin berkomentar seperti ini: "percuma saja merencanakan untuk mendidik anak seperti ini dan itu kalau kalian tidak punya kebersamaan dengan anak itu sendiri". Kenapa saya bilang seperti ini? Karena realitanya sekarang ini, kebanyakan para ibu berat untuk melepas pekerjaan mereka dan berkonsentrasi penuh sebagai ibu rumah tangga di rumah mendidik anak mereka. Para ibu malah menjadi wanita karir dan masalah untuk mengurus anak mereka menitipkan anak mereka ke pengasuh anak atau ke nenek si anak. Lantas bagaimana dengan rencana mendidik anak yang sudah dibayangkan sebelumnya? Apa rencana itu kalian beritahukan ke pengasuh anak untuk mendidik anak kalian seperti yang kalian inginkan? Apa kalian yakin mempercayakan anak sendiri untuk diasuh dalam beberapa jam sehari-harinya ke pengasuh atau kerabat keluarga? Jujur ada nilai pendidikan orang jaman dulu dalam mendidik anak yang kurang saya sukai. Contohnya saja ketika si anak jatuh lalu menangis, orang tua (orang jaman dulu) akan menyalahkan lantainya atau menyalahkan binatang. Sementara seharusnya kita realistis saja apa penyebab jatuhnya si anak. Kita tidak boleh memarahi atau menyalahkan si anak juga tapi kita lebih kepada meminta dia next time harus lebih hati-hati supaya tidak jatuh. Teman saya malahan pernah ada bilang jangan sampai ibu kita (nenek si anak) yang mengurus si anak. Kenapa? Karena Ibu kita sudah lelah mengurus dan membesarkan kita. Jadi, kenapa beliau juga harus mengurus generasi kita selanjutnya (cucunya) dimana itu seharusnya menjadi tugas kita. Memang sebagai orang tua baru masihlah harus banyak belajar karena masih banyak hal yang tidak diketahui perihal mendidik anak. Tapi, bukan berarti harus menyerahkan sepenuhnya ke pengasuh atau kerabat keluarga. Bukankah orang tua rasanya lebih tenang kalau buah hati ada dalam pengawasan serta pendidikan sendiri.
Duh malah menulis tentang hal semacam ini! kayak sudah berkeluarga dan punya anak saja! hehehe... sebelumnya mohon maaf ya... saya hanya ingin berbagi pendapat saya saja. Kalau ada yang salah mohon maaf juga ya...

Menjadi Bapak

2:29 AM 0 Comments
Pernahkah kalian menonton drama jepang "Kaseifu no Mita"? yang belum nonton, nonton gih! bagus! hehehe. Disini saya bukan mau mereview drama ini, hanya saja saya ingin bercerita tentang kesan saya setelah nonton drama itu. Kalau boleh sedikit bercerita tentang cerita dari drama itu sendiri, drama ini mengisahkan tentang seorang asisten rumah tangga bernama Mita yang bekerja di keluarga yang berantakan. Keluarga itu terdiri dari dua anak laki-laki dan dua anak perempuan serta seorang ayah yang selingkuh dari istrinya dan istrinya bunuh diri. Mita sendiri orangnya misterius dan dalam bekerja dia akan melakukan semua yang diperintahkan oleh majikannya, termasuk untuk membunuh orang. Cukup segini ya ceritanya, yang penasaran tonton saja dramanya. Kembali lagi ke tujuan utama dari tulisan saya ini, setelah menonton drama tersebut saya jadi menyadari kalau tidak semua pasangan menikah itu siap untuk menjadi orang tua. Termasuk yang sangat kelihatan di drama ini adalah karakter si ayah. Tidak semua married man siap untuk menjadi seorang bapak. Di drama ini yang saya lihat seperti itu. Dia bingung mengurusi anak-anaknya dan seperti tidak peduli dan tidak cinta ke anaknya sendiri. Jujur saja sekarang ini saya sedang merasa semakin saya besar semakin ayah saya benci ke saya. Nggak tahu kenapa! Ayah saya tidak pernah bertanya ke saya kalau saya pulang malam entah selepas maghrib atau isya' padahal saya jarang sekali keluar rumah. Beliau seperti tidak peduli dengan saya. Bahkan ketika saya masih kecil atau masih sekolah beliau selalu marah tiap kali saya sakit. Heran saya! Anak sendiri sakit malah dimarahin. Padahal orang sakit kan wajar saja kalau muntah-muntah tiba-tiba dan dimana saja. Tapi, anehnya saya sering menanyakan ke orang rumah tentang keberadaannya. Saya sering bertanya: "Ayah mana?" atau saya juga sering bertanya ke beliau langsung: "Sudah makan?" atau "Sudah mau kerja?". Saya sendiri pun nggak ngerti kenapa saya seperti itu.