Friday, January 4, 2019

Duka

6:20 AM 0 Comments
21 Desember 2018. Siang itu di hari Jum’at saya belum sampai menyendokkan makan siang saya ke mulut saya, anak kecil depan rumah datang menemui saya dan mengabari saya untuk segera ke rumahnya karena budhe saya kritis. Saya batal menyantap makan siang saya dan memutuskan menyimpannya dulu. Saya segera ke rumah budhe.
Di rumah budhe, saya melihat wajah budhe sudah pucat. Menantu kedua budhe membimbing budhe untuk menyebut asma Allah. Sementara anak bungsu budhe membacakan yasin di sebelah budhe terbaring. Saya sendiri lantas dimintai tolong untuk memanggil anak sulung budhe. Seingat saya orangnya ada di rumah karena sudah pulang dari menyopir luar kota-an. Ternyata anak sulung budhe tidak ada di rumah. Dia pergi entah kemana. Yang ada hanya putranya. Lalu putranya dikabari untuk segera mencari bapaknya karena kondisi budhe yang sudah kritis.
Saya kembali ke rumah budhe. Budhe seperti sudah mau pergi untuk selama-lamanya. Anak kedua budhe meminta tolong saya untuk memanggil tetangga saya yang biasanya menggali kubur untuk warga desa yang meninggal. Baru saya mau jalan ke rumah beliau, beliau sudah berjalan ke arah rumah budhe saya. Saya pun menyampaikan kondisi budhe saya. Beliau sempat bertanya apa budhe saya sudah tidak ada? Saya gugup menjawab dengan tidak jelas. Karena saya juga bingung saya belum tahu pastinya. Saya pun masuk kembali ke rumah budhe dan pukul 2 siang budhe sudah tidak lagi bernafas. Budhe pergi menghadap Allah. Meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Tangis saya pun pecah. Begitu juga dengan semua orang yang ada disana. Saya lalu mencoba untuk menenangkan diri saya sembari mengabari semua kakak saya dan juga mama saya. Kalau bapak sudah saya kasih tau ketika saya mau ke rumah budhe, saya bilang kalau budhe kritis. Saya pun menenangkan anak kecil (cucu budhe) yang masih terus menangis.
Budhe dimakamkan sekitar pukul 8 malam.
Ya Allah ampunilah segala dosanya. Terimalah amal ibadahnya.
Lapangkanlah kubur beliau. Aamiin.
Sebenarnya kami bingung. Sebelum meninggal kondisi budhe saya ini sakit kurang lebih memang hampir setahun. Budhe jatuh sakit di sekitar desember 2017 dan meninggal di desember 2018. Selama sakit itu fisiknya jadi mengurus. Dan beliau hanya bisa berbaring di kasur. Kata orang kalau sakit lama begitu itu kasihan yang sakit dan kasihan yang merawat. Tapi, walau sakit begitu kan yang sakit itu masih hidup dan rasanya tidak etis kalau mendo’akan untuk meninggal. Dan sebagai yang masih hidup dan sehat harus membantu merawatnya. Saya kerap menengok budhe dan membantu menjaganya ketika pagi. Rasanya sedih.
Kehilangan itu pasti. Tapi, Kami ikhlas.
Selamat Jalan Budhe…
 
  Kamis, 03 Januari 2019
  10:54

Monday, December 31, 2018

2018 Dalam Cerita: Asian Games 2018

10:51 AM 0 Comments
Saya tahu sangat telat untuk menulis tentang ini. Hahahaha. Tapi, ini memang sudah saya rencanakan untuk menulis tentang momen ini di penghujung tahun 2018. Yak, sebentar lagi sudah akan ke tahun 2019.
Bagi saya, Asian Games 2018 di Indonesia akan menjadi momen yang tidak akan terlupakan seumur hidup saya. Saya tahu tentu saya bukan orang yang berperan langsung seperti menjadi atlet atau relawan, melainkan hanya menjadi penonton di rumah tapi tetap saja saya merasa bangga dengan Indonesia. Saya pun merasa menjadi bagian dari sejarah di mana di tahun 2018 Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games dan Alhamdulillah sukses.
Selain Indonesia telah berhasil menjadi tuan rumah yang baik. Prestasi para atlet pun mengagumkan, bisa melebihi target yang diberikan. Upacara pembukaan serta penutupannya pun fantastis. Sampai-sampai disorot oleh media luar negeri. Tapi memang lho… upacara pembukaan World Cup saja tidak sekeren upacara pembukaan Asian Games 2018. Hehehe.
Untuk upacara penutupan ada beberapa bintang tamu dari luar negeri. Karena Kpop gaungnya masih sangat kuat di Indonesia ada dua boyband asal Korea Selatan yang turut mengisi acara. Ada iKON dan Super Junior. Nah, yang menarik perhatian saya adalah kalau Super Junior saya rasa sudah banyak yang tahu. Kalau iKON ini justru malah seperti menarik orang yang awalnya tidak suka Kpop jadi mencoba mencari tahu. Mana cowok-cowok jadi muter lagu mereka yang “Love Scenario” Hahaha. Sebenarnya menurut saya sendiri, lagu-lagu untuk Asian Games 2018 yang dinyanyikan oleh para  penyanyi Indonesia juga bagus-bagus.
Oiya, saking meriahnya pas nonton di tv itu kembang api di atas GBK banyak sekali sampai terlihat seperti GBK nya terbakar. Hehehe. Keren! Keren! Keren! Ada seorang teman saya yang fansnya Super Junior bisa menonton langsung di GBK. Pasti seru bisa merasakan euphoria bangsa Indonesia akan Asian Games 2018 langsung di GBK.
 
  Selasa, 04 Desember 2018
  14:58

Sunday, November 18, 2018

15november2018

8:23 PM 0 Comments
Saya agak telat menulis ini karena beberapa hari yang lalu masih merasa kecapekan. Sebenarnya bingung juga mau nulis apa karena keadaan saya masih seperti ini aja. Tapi, saya tetap merasa bersyukur saya masih diberi hidup oleh Allah. Semoga hidup saya berkah. Khawatirnya panjang umur tapi malah cuma bikin dosa bukannya bermanfaat buat yang lain.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap mendekati ulang tahun saya pasti memikirkan suatu keinginan. Maksudnya untuk tahun ini ulang tahunnya ngapain ya.. mau apa ya. Dan saya sempat berpikir untuk membeli kaos bergambar karakter Marvel sebagai kado buat diri saya sendiri. Sudah sempat liat-liat kaos-kaosnya di online shop tapi ya rencana memang tinggal rencana. Saya nggak jadi beli. Project saya yang lain adalah saya ingin mengkhatamkan Al Qur’an. Alhamdulillah tercapai. Saya mulai sekitar akhir bulan September dan khatam dua hari sebelum hari ulang tahun saya. Saya baca rutin tiap harinya dua kali yaitu setelah Subuh dan Maghrib. Saya terinspirasi dari seseorang yang saya sering membaca tumblrnya. Dia seorang santri dan di salah satu postingannya dia bercerita kalau dia menyambut hari kelahirannya dengan muroja’ah hafalan Qur’an bersama dengan temannya. Berhubung saya belum hafal Al Qur’an 30 Juz jadi saya mengkhatamkan Al Qur’an dengan membacanya. Semoga saya bisa sepertinya yang hafal Al Qur’an 30 Juz. Aamiin.
(Duh, saya nulis begini jadi khawatir nanti dibilang berarti kamu ngelakuin itu bukan karena Allah dong?! Ya karena Allah. Biar lebih dekat sama Allah dan sebagai wujud rasa syukur masih diberi hidup sampai dengan usia saya sekarang)
Saya merasa sedih karena saya merasa terlupakan. Karena nggak ada satupun yang ingat ulang tahun saya. Yang nge-notice ulang tahun saya cuma Twitter. Hehehe. Saya dikasih balon-balon terbang. Tapi, ya sudah sih nggak apa-apa. Karena sekarang ini semuanya sudah sibuk dengan kehidupannya masing-masing.
Do’a saya: Ya Allah… tolong bantu saya… *nangis* pengen dapat kerjaan Ya Allah…

Friday, August 31, 2018

Orang-Orang

4:53 AM 0 Comments
Dulu saya pernah menulis: “Kita hidup di dunia bertemu dengan banyak orang. Beberapa diantaranya menjadi dekat dan beberapanya lagi hanya sekedar lewat”. Dan saat ini saya sedang merasa “Oh ini ya ternyata maksud perjumpaan saya dengan orang ini. Padahal saya bukan tipe orang yang mudah dekat dengan orang lain. Dan saya dekat dengan orang ini pun karena teman saya” hingga kita bertiga terlibat dalam suatu hal. Intinya dari perjumpaan itu sekarang sudah jadi seperti ini. Dan saya merasa lebih gilanya adalah sekarang ini saya berada di usia dimana adalah usia dari orang itu ketika pertama kali kami bertemu.

Ada juga yang saya pikir akan tetap berkomunikasi selepas kelulusan, ternyata tidak begitu. Hahaha. Kalau soal kesibukan di kehidupan masing-masing saya bisa mengerti tapi ini seperti dia berubah. Atau saya yang terlalu melebihkan dia? Saya yang mengirim pesan dia duluan. Itu juga komentar atas stories yang dia bagikan. Bukan memang mengirim pesan terlebih dulu dan membawa ide topik buat dibahas dari diri sendiri. Tapi, komentar pun kadang masih tidak dibalas juga. Hahaha. Entahlah. Di sisi lain. Ada juga yang saya pikir tidak akan menjaga komunikasi eh ternyata malah tetap bisa berkomunikasi sampai sekarang. Padahal dulu tidak pernah satu kelas. Jadi mungkin bukan yang kenal-kenal banget.

Saya juga merasa kehilangan kenalan-kenalan yang saya dapat dari social media. Saya tidak tahu mungkin dia menonaktifkan akun Facebook nya. Soalnya saya cari tidak ada. Entah apa kesibukan dia sekarang.Entah lanjut study S2. Apa masih menjadi freelancer translator. Atau bahkan apakah dia sudah menikah? Saya tidak tahu lagi kabarnya. Ada juga kenalan yang sekarang jadi beralih sampai saya follow di instagram. Tapi, ya gitu… sekarang jadi canggung kalau berkomunikasi. Hahaha. Entahlah, saya juga jarang buka instagram. Padahal dulu jaman Facebook-an bareng sering chat ngobrol soal study dan lain-lain.

Selain tentang orang lama. Ada juga orang-orang baru yang membuat saya merasa sedikit down. Karena mereka berhubungan dengan tempat dimana saya pernah disana. Tentu saya rasa posisi mereka lebih baik dari saya. Ya gitulah. Pahit! Tapi, lebih seperti sedikit kejutan tak terduga. “eh? Lho kok?”



Selasa, 28 Agustus 2018

18:39

Hidup Episode Sedih

4:51 AM 0 Comments
Ini seperti hari bertemu hari dan melewati saya. Bukan saya yang melewati hari demi hari. Iya, rasanya cepat sekali. Seakan hari yang sama bertemu di pecan yang berbeda itu rasanya begitu cepat. Dan tahu-tahu tua. Iya kan. 

Kurang lebih begitulah yang saya rasakan. Dan selama ini saya seperti tidak melakukan banyak hal tapi banyak kejadian yang sudah terjadi di hidup saya. Banyak sedihnya. Mungkin berawal sekitar akhir Desember 2017. Bapak sakit. Tangan kanan dan kaki kirinya kaku. Dicek tingkat kadar gula darah, tekanan darah, dan asam urat lumayan tinggi. Bapak juga jadi berhenti kerja dan istirahat di rumah. Sampai sekarang masih kaku jadi kesulitan buat berjalan normal dan makan pakai tangan kanan. Lebaran kemaren Saudara-saudara bapak dari luar kota datang berkunjung. Sedihnya, pada lebaran tahun sebelumnya Bapak itu kesehatannya masih baik-baik saja. Semoga lekas sembuh ya Bapak. 

Masih di kisaran waktu yang sama, Budhe saya masuk rumah sakit. Beliau jatuh pingsan di tempat kerjanya dan dilarikan ke rumah sakit. Terkena stroke. Sampai sekarang hanya bisa terbaring di tempat tidur. Semoga lekas sembuh ya Budhe.. 

Sekitar akhir April 2018, Pak Dhe saya (Suami Budhe saya yang sakit) meninggal. Iya, rasanya begitu tiba-tiba. Banyak orang pun tidak menyangka kalau Pak Dhe akan pergi secepat itu. Apalagi orang-orang taunya Budhe saya yang sakit. Pak Dhe saya sempat dirawat di rumah sakit selama beberapa hari sebelum akhirnya beliau memaksa minta pulang. Beliau sakit bagian organ dalamnya. Saya sebenarnya kurang tau juga sih. Tapi, Pak Dhe saya ketika dirawat di rumah sakit sempat sampai tranfusi darah juga. Rasanya sedih. Apalagi kadang ketika saya melalui suatu jalan dimana biasanya saya menyapa Pak Dhe saya ketika kami bertemu disana. Rasanya aneh. Dulu beliau ada disana dan sekarang sudah tidak ada lagi di dunia ini. Semoga tenang disana ya Pak Dhe. Al Fatihah. 

Saya lupa sekitar bulan apa, tapi Bulek (Adiknya Bapak) ternyata harus menempuh operasi di kakinya. Kurang paham juga sakitnya apa. Alhamdulillah sekarang beliau sudah bisa masuk kerja lagi. 

Dari kejadian-kejadian yang terjadi di hidup saya, saya jadi semakin menghargai kesehatan. Jadi ingat “Sehat sebelum Sakit. Muda sebelum Tua”. Jangan mentang-mentang masih muda lantas pola hidup semaunya sendiri. Kalau sudah dibiasakan sedari muda menjaga kesehatan Insya Allah hasilnya akan baik (setidaknya tidak aka nada ruginya kan?). 

Dan kematian adalah suatu kepastian. Karena semua yang bernyawa pasti akan mati. Jadi harus mempersiapakan diri. Kita tidak akan pernah tahu kapan kita akan mati. Dunia ini hanya sementara. 

Sabtu, 25 Oktober 2018
12:26