Wednesday, April 4, 2012

Knowing Feeling with Reading

9:31 AM 0 Comments
Kemaren habis baca postingannya salah satu teman saya di blognya. Isi postingannya tentang perasaan dia ke seorang laki-laki. Di postingannya itu dia mendeskripsikan seperti apa laki-laki yang sudah menggetarkan hatinya itu. Mungkin menurut orang postingan teman saya yang seperti itu biasa saja, tapi ada satu kalimat dari postingan teman saya itu yang cukup menarik, setidaknya menurut saya. Dia menulis: “aku takut aku cinta” di akhir postingannya yang berjudul “Kamu” itu. Jleb! Ngena banget menurut saya. Hehe.
Jauh beberapa bulan sebelum ini, sewaktu saya lagi maen di dunia maya secara tidak sengaja saya sampai di blognya seseorang. Dia perempuan. Di blognya itu ada salah satu postingan yang dia tulis sebagai tanggapan dari postingan salah satu teman laki-lakinya. Dia sedikit menceritakan di blognya kalau di blog temannya itu, temannya menuliskan tentang sikapnya ke dia selama ini. Dan, dia pun menangkap kalau sebenarnya temannya itu ada rasa dengan dia. Kurang lebih seperti itulah isi postingan balasan itu. Tapi, dari postingan temannya itu ada yang sedikit mengganggu saya. “Aku tidak bermaksud mengganggumu. Hanya saja aku ingin melakukan itu”. Kurang lebih seperti itu tulisannya. Saya bisa bilang kalau itu salah satu sikap egois si laki-laki. Gimana tidak? Si laki-laki merasa senang menganggu si perempuan karena bisa merasa lebih dekat gitu. Tapi, disisi perempuan gimana? Apa dia seneng juga diganggu? Bukankah diganggu atau mengalami gangguan itu tidak enak?. Well, it’s not really the point. Saya masih ingat, raditya dika dalam stand up comedy nya pernah bercanda yang kurang lebih seperti ini:

(agak) sedikit realistis

9:27 AM 0 Comments
Cahaya terang sedikit menerangi semester 6 ini. Beberapa dosen mulai (agak) sedikit realistis tentang tugas kelompok dan utamanya adalah tentang nilai. Saya bilang agak karena saya sendiri belum tahu bagaimana implementasi dari apa yang sudah diucapkan oleh dosen di kelas. Saya berharap hasilnya benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan.
Jadi, dosen saya bilang kalau tidak semua mahasiswa yang bekerja di kelompok (tim) itu semuanya aktif. Ada juga yang pasif yang hanya nebeng nama saja dan dapat nilai bagus sama seperti anggota kelompoknya. Yang seperti itu kan tidak adil namanya. Jadi, syukurlah dosen saya sadar dan mengerti mengenai apa yang terjadi di lapangan. Hehe.

Merasa Sendiri Adalah…

9:23 AM 0 Comments

Saat kamu bersama dengan kedua orang teman kamu. Dimana teman kamu lebih dekat dan nyaman bersama dengan teman kamu selain kamu.
Saat teman kamu menemukan banyak teman baru dan lebih nyaman bersama dengan mereka.

a fake concern (a letter to an opportunist)

9:19 AM 0 Comments
kasihan?
Apa mereka juga kasihan denganmu?
Lisanmu sungguh manis saat kau mulai ujarkan rasa kasihanmu
Dan aku bertanya setelah itu
Apa yang kamu lakukan?
Tak lakukan apapun
Hanya membagi rasa
Apa itu dapat selesaikan semuanya
Terkadang aku merasa kalau sekarang kamu tlah seperti dia
Menjadi ringan sekali dalam bertutur kata

Kau tak ingin rugikan siapapun
Tapi di sisi lain kau inginkan semuanya itu timbal-balik
Kau baik karena itu untuk bersama
Karena kalau kau buat jelek
Baik mereka ataupun kamu
Pastinya akan dapat jelek juga
Kau seolah tak mau dapat jelek
Dan sebenarnya ada sesuatu yang kamu lewatkan
Sesuatu pelajaran yang lebih dari berbagi rasa kasihan


Friday, March 30, 2012

THINK BEFORE YOU SAY

6:58 AM 0 Comments
Suatu ketika saya pernah Online, dan tersangkut di multiplay seseorang. Pada salah satu tulisannya, saya membaca kurang lebih yang intinya seperti ini: Jangan asal bilang kalau dirimu itu autis. Anda tidak tahu bagaimana repotnya seorang ibu yang mengurus seorang anak autis. Kalau Anda tahu Anda pasti tidak akan mengatakan kalau diri Anda itu autis. Jadi, jangan langsung mudah mengatakan sesuatu tanpa Anda tahu apa yang sebenarnya Anda ucapkan.
Kalau saya pikir memang ada benarnya. Pernah saya menjumpai teman di dunia maya yang dengan mudahnya bilang kalau dia autis. Foto profil di jejaring sosialnya bertuliskan autis. Padahal tampak lebih tepat kalau dibilang alay atau narsis.
Tidak perlu berjalan jauh-jauh untuk mengambil contoh dari seorang teman saya, saya sendiri pun pernah googling tentang ciri-ciri anak autis. Karena saya juga penasaran apa saya bisa dibilang autis juga apa tidak. Beberapa ciri sih ada yang masuk. Dan terkadang saya juga bilang kalau diri saya ini autis. Tapi, sekarang saya lebih cenderung untuk memakai kata introvert untuk menggambarkan diri saya daripada memakai kata autis. Karena saya memanglah seorang introvert.
Selain itu juga, tidak jarang juga saya membaca tulisan maupun mendengar orang yang bilang kalau dia pengen bunuh diri. Kalau saya pikir-pikir memangnya bunuh diri itu gampang? Saya saja terkadang berpikir tentang bunuh diri juga . Tapi, pemikiran saya untuk bunuh diri itu terhenti karena saya tidak bisa melakukannya. Karena saya tidak bisa melukai diri saya sendiri. Dan, kalau meminta orang lain untuk membunuh ya rasanya aneh dan pastinya tidak akan ada yang mau. Haha. Selain itu kalau pergi terlalu cepat seperti orang yang tidak bertangungjawab saja. Tidak tahu berterima kasih. Tidak tahu balas budi. So, Think before you say. ^_^

Jum’at, 03 Februari 2012
22:06